Langsung ke konten utama

Hakikat Ahlussunnah Wal Jamaah

Apa Sih Hakekatnya Ahlussunnah Wal Jamaah? - Kajian Islam Tarakan
APA SIH HAKIKATNYA AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH ?
Oleh : Habib Jindan bin Novel bin Salim

Ahlussunnah Wal Jamaah, di antara ciri yang terkuat yang mereka punya. Ahlussunnah Wal Jamaah bukan kelompok yang tukang mengkafirkan orang. Ambil ini.

Sebab mengkafirkan orang, sunnahnya siapa? Kamu bilang Ahlussunnah, tapi mengkafirkan orang Islam. Sunnahnya siapa?

Ahlussunnah Wal Jamaah, cirinya bukan tukang mengkafirkan orang lain. Ahlussunnah Wal Jamaah punya ciri: Cinta kepada Nabi, cinta kepada Sahabat, cinta kepada Ahlul Bait. Itu Ahlussunnah.

Ahlussunnah Wal Jamaah, bukan mengklaim membela sahabat tapi mencaci dan membenci keluarganya Nabi Muhammad. Itu bukan Ahlussunnah. Sunnah siapa itu?

Bukan juga atas nama membela, mencintai Ahlul Bait tetapi mencaci sahabatnya Rasulullah SAW. Itu bukan Ahlussunnah Wal Jamaah. Lagian ajaran siapa sih yang mengajarkan kita untuk mengata-ngatain orang? Itu sunnahnya siapa yang ngatain orang? ngatain orang Islam, sunnahnya siapa? Bukan sunnahnya Nabi. Itu sunnahnya Syaitan.

Cirinya Ahlussunnah, bukan tukang caci maki. Sebab, itu bukan sunnahnya Nabi. Itu sunnahnya Iblis, sunnahnya Syaitan.

Ciri Ahlussunnah, bukan tukang mengkafirkan, bukan tukang mencaci, bukan tukang membid'ahkan. Maaf maaf, kita Ahlussunnah bukan tukang membid'ahkan.

Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad pernah nggak mengata-ngatain orang, "Bid'ah, Syirik"? Ada nggak?

Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, muassis pendiri majelis ini, pernah nggak?

Ini orang-orang tua, pernah nggak dengar Habib Ali ngatain orang "Bid'ah, Syirik, Sesat" ada? Nggak pernah.

Begitu juga, adakah Hadits Rasulullah bilang kepada seorang muslim, "Kamu kafir, kamu mubtadi'", ada begitu? Nggak pernah ada.

Sebab, memang misinya Nabi Muhammad dan misi para ulama pengikut sunnahnya Nabi Muhammad, mereka mengislamkan orang, bukan mengkafirkan. Mentauhidkan, bukan mensyirikkan. Mensunnahkan, bukan membid'ahkan. Itu ajaran yang betul.

(Habib Jindan bin Novel bin Salim)

#reposted from ig @ulama.nusantara : https://www.instagram.com/tv/B9eTV3Jp7pX/

Sumber FB : LDNU Tarakan
9 Maret pukul 16.17 ·

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Sunnahku

“Inilah Sunnahku…” Sunnah Rasulullah Saw tidak terbatas pada satu dimensi saja. Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan masalah akidah (dalam konteks inilah makna sunnah dalam pemakaian ulama salaf ; dalam bidang akidah). Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan ibadah. Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan adat kebiasaan.  Tapi ada yang menarik. Meskipun ada sunnah dalam akidah, ibadah, kebiasaan dan sebagainya, tapi tidak ada satu hadits pun dalam kutub sittah (sepanjang yang saya tahu) yang di dalamnya Rasulullah Saw menegaskan bahwa, “Inilah sunnahku…” (ada memang hadits dalam shahihain dengan redaksi: “Siapa yang tidak suka sunnahku maka ia bukan bagian dariku,” dan ini berkaitan dengan masalah menikah, puasa dan tidur di malam hari). Satu-satunya hadits dimana Nabi menegaskan bahwa “inilah sunnahku…” justeru tidak berkaitan dengan masalah akidah atau ibadah sama sekali, melainkan dalam masalah kesucian hati.  Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam ...

Takut Bid'ah Meninggalkan Sunnah

Takut Bid'ah Meninggalkan Sunnah Oleh: Hanif Luthfi Beberapa orang itu, karena takutnya terhadap bid'ah malah meninggalkan sunnah. Selepas shalat, ada beberapa jamaah yang langsung mundur, kadang langsung pulang. Khawatir bid'ah diajak salaman, bid'ah dzikir bersama. Kadang lupa, senyum kepada saudara muslimnya, itu juga sunnah. Takut bid'ah di kuburan, malah meninggalkan sunnah ziarah kubur. Takut bid'ah dalam berdoa, malah tak mengamini doa orang lain. Takut bid'ah shalawatan, lupa memperbanyak shalawat. Termasuk malam nishfu Sya'ban ini. Entah kalender antum malam nishfu Sya'bannya malam ini atau besok malam. Ada yang khawatir masuk bid'ah malam nishfu Sya'ban, tapi malah meninggalkan sunnah.  Malam nishfu Sya'ban dilalui biasa-biasa saja, karena khawatir bid'ah. Tapi, benarkah hadis-hadis tentang keutamaan malam Nishfu Sya'ban itu valid dan shahih? Bagaimana para ahli hadis menilai hadisnya? Bagaimana para ulama melalui malam ...

Sahur On The Road, Sunnah Atau Bidah?

Sahur On The Road, Sunnah Atau Bid'ah? Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Pertanyaan : Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mohon bertanyan ustadz. Apa pandangan ustadz tentang fenoma yang marak di malam-malam bulan Ramadhan, yaitu aksi Sahur On The Road (SOTR). Apakah kegiatan ini bernilai syar'i dan merupakan bagian dari syiar Ramadhan? Ataukah justru sebaliknya? Mohon penjelasan dari ustadz. Sebelumnya syukran atas jawabannya. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Jawaban : Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Entah siapa yang mengawali trend ini, yang pasti belakangan ini Sahur on The road (SOTR) sudah menjadi suatu kebiasaan sebagian masyarakat baik di Jakarta bahkan daerah lainya. Ribuan siswa, mahasiswa, komunitas, club, instansi dan lainnya berkeliling kota menyusuri jalan-jalan di tengah malam dengan membawa bungkusan yang berisi makanan dan membagi-bagikannya kepada gelandangan, pengemis, tunawisma dan lainnya. Yang diberikan umumnya nas...