Langsung ke konten utama

Adakah Shalat Sunnah Pembuka Setelah Witir

Adakah Shalat Sunnah Setelah Witir
 
Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr. wb. 

Pak Ustadz yang dirohmati Alloh, apakah diperbolehkan kita melakukan sholat tasbih/sholat sunnah lain setelah sebelumnya kita tarawih witir? Benarkah ada sholat sunnah pembuka bila kita sudah melakukan sholat witir? Sholat "pembuka" ini pernah saya jumpai di sebagian masjid di daerah saya. Mohon penjelasan.

Jazakallohu khoiron katsiron.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Adakah Shalat Sunnah Setelah Witir - Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA - Kajian Sunnah Tarakan
Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA
Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang tiap orang mungkin saja berijtihad pada wilayah di mana tidak ada nash yang shahih dan sharih. Terutama pada nash yang memungkinkan terjadi di dalamnya multi penafsiran. Dan kemungkinan terjadinya perbedaan dalam hasil ijtihad itu sangat besar, meski masing-masing ulama telah mencurahkan segenap tenaganya untuk melakukan istimbath hukum.

Salah satu bentuk kesimpulan ijtihad adalah pendapat sebagian kalangan bahwa shalat witir itu adalah shalat penutup. Lewat logika sederhana, sebagian mereka mengatakan bahwa kalau rangkaian shalat malam telah ditutup, maka seharusnya tidak boleh lagi ada shalat sunnah di malam itu. Kalau tetap ingin melakukan shalat sunnah, maka harus 'dibuka' dulu tutupnya.

Tentu saja ini hanya logika, sebab istilah buka dan tutup itu tidak ada nashnya dari nabi SAW. Yang ada nashnya adalah sabda beliau:

Dari Umar ra. dari nabi SAW beliau bersabda, "Jadikanlah shalatmu malammu yang terakhir adalah shalat witir." (HR Muttafaq 'alaihi)

Hadits ini disepakati oleh para ulama dari segi keshahihannya, tapi urusan bagaimana menarik kesimpulannya, mereka berbeda pendapat.

Sebagian mengatakan bahwa shalat witir itu adalah shalat penutup, jadi tidak boleh lagi shalat apapun di malam itu kalau sudah shalat witir.

Sebagian lainnya berpendapat sama, hanya saja mereka memperkenalkan istilah 'pembuka' witir. Yaitu kalau sudah terlanjur shalat witir malam itu tapi ternyata masih ingin menambah shalat lagi, boleh. Asalkan shalat witir yang sudah dilakukan tapi harus ditambahi lagi dengan satu rakaat. Nah, shalat satu rakaat tambahan inilah yang mereka sebut dengan shalat pembuka. Maksudnya, dengan shalat satu rakaat, maka shalat witir yang tadi menjadi genap (witir=ganjil).

Sebagian yang lainnya memahami hadits di atas dengan cara berbeda lagi. Hadits itu tidak berada dalam posisi untuk melarang shalat malam setelah witir. Hadits itu hanya mengatakan bahwa kalau mau disusun, maka sebaiknya shalat witir itu diletakkan di bagian akhir dari rangkaian shalat malam.

Hal ini senada dengan sabda beliau SAW yang lain:

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Nabi SAW bersabda, "Shalat witirlah sebelum shalat shubuh." (HR. Muslim)

Tapi bila terlanjur telah melakukan shalat witir sebelumnya, hadits di atas sana sama sekali tidak berfungsi untuk mengharamkan shalat sunnah di malam itu setelahnya. Maka kalau mau shalat malam, silahkan saja. Tidak perlu melakukan shalat witir pembuka lagi. Dan ternyata justru ada larangan untuk melakukan shalat witir dua kali.

Dari Thariq bin Ali berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dua witir dalam satu malam.' (HR Ahmad)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Sumber : https://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1159239244-adakah-shalat-sunnah-pembuka-setelah-witir.html (Wed 27 September 2006 02:13)

kajian sunnah tarakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Sunnahku

“Inilah Sunnahku…” Sunnah Rasulullah Saw tidak terbatas pada satu dimensi saja. Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan masalah akidah (dalam konteks inilah makna sunnah dalam pemakaian ulama salaf ; dalam bidang akidah). Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan ibadah. Ada sunnah beliau yang berkaitan dengan adat kebiasaan.  Tapi ada yang menarik. Meskipun ada sunnah dalam akidah, ibadah, kebiasaan dan sebagainya, tapi tidak ada satu hadits pun dalam kutub sittah (sepanjang yang saya tahu) yang di dalamnya Rasulullah Saw menegaskan bahwa, “Inilah sunnahku…” (ada memang hadits dalam shahihain dengan redaksi: “Siapa yang tidak suka sunnahku maka ia bukan bagian dariku,” dan ini berkaitan dengan masalah menikah, puasa dan tidur di malam hari). Satu-satunya hadits dimana Nabi menegaskan bahwa “inilah sunnahku…” justeru tidak berkaitan dengan masalah akidah atau ibadah sama sekali, melainkan dalam masalah kesucian hati.  Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam ...

Mengapa Bukan Ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Diundang?

Mengapa Bukan Ulama' Ahlussunnah Wal Jama'ah Yang Diundang? Viral berita Ustadz Khalid Basalamah (Salafi) diundang ngisi kajian di Markaz Kepolisian Perairan dan Udara. Dan banyak yang bertanya, mengapa tidak da'i-da'i NU atau Ahlussunnah lainnya?  Tentu kali ini saya tidak sedang mengkritisi akidah dan pemahaman Khalid Basalamah yang banyak bermasalah. Tapi lebih ingin menyorot mengapa bukan ulama' Ahlussunnah wal Jama'ah baik dari NU atau yang lain yang diundang kesana. Saya akan mencoba menganalisis dari sudut subyektivitas saya [Kalau salah jangan dimarahi ๐Ÿ˜ƒ]: 1. Di tubuh Ahlussunnah, khususnya NU, mungkin lebih tampak [bagi sebagian anggota polri khususnya] nuansa politiknya daripada nuansa murni dakwahnya atau lebih terlihat kerap berkonflik dan berkonfrontasi dengan ormas atau aliran lain. Sementara kelompok Salafi seperti Khalid Basalamah lebih fokus membangun konten dan polesan-polesan dakwahnya serta tidak terlalu peduli kritik-kritik yang ditujukan k...

Sama-Sama Sunnah

SAMA-SAMA 'SUNNAH' @ajir_ubaidillah   Gamis memang istimewa, hingga NABI begitu menyukainya. Sayyidah Ummi Salamah Radhiallohu `anha mengatakan,  ูƒَุงู†َ ุฃَุญَุจَّ ุงู„ุซِّูŠَุงุจِ ุฅِู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงู„ْู‚َู…ِูŠุตُ  “Pakaian yang paling disukai oleh Nabi Shallallohu `alaihi wa sallam adalah Gamis”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi) Meski demikian Islam itu agama yang mudah, pemeluk nya tidak diwajibkan untuk mengenakan pakaian jenis atau model tertentu. Yang terpenting menutup aurat dan sopan itu poin nya. So yang mau pakai gamis yuk niat kan yang baik untuk mengikuti sunnah Nabi, tentu dengan diikuti perbuatan dan perkataan yang baik pula agar sunnah nya semakin sempurna.  Yang masih nyaman pakai sarung, celana dan sebagainya pun tak mengapa, asal tetap menutup aurat dan sopan, itu sama-sama 'sunnah'. ๐Ÿ“ธKenangan saat Harmoni Ramadhan 2 Tahun lalu (pebelum pandemi) #sunnah #gamis #baju Sumber FB Ustadz : Ajir Ubaidillah 21 Mei 2021  Kajian Sunnah